Percobaan
Tingginya harga daging sapi.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Perkembangan Harga Daging Sapi Nasional Tingkat Eceran Tahun 2003-2012*)
Harga daging sapi terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Showing posts with label harga. Show all posts
Showing posts with label harga. Show all posts
Wednesday, January 2, 2013
Natal dan Tahun Baru, Harga Daging Sapi Dipastikan Naik
10:06 PM
daging, daging sapi, harga, Harga daging naik, harga naik, impor, Natal, RPH, sapi, stok daging, tahun Baru
1 comment
Normalnya, kebutuhan sapi di Jakarta adalah 1.500 ekor per hari. Biasanya, kami bisa memotong 100 ekor sapi di satu RPH, namun kini hanya bisa memotong 50 ekor sapi di dua RPH," ujar Sarman.Dengan kondisi seperti itu, Sarman memastikan harga daging sapi pada Natal dan Tahun Baru akan melonjak tinggi.
Sebagai informasi, harga daging sapi di Jakarta saat ini sudah mencapai Rp 120.000 per kilogram. Pada tingkat distributor, harga daging sapi mencapai Rp 95.000 hingga Rp 100.000 per kilogram.Sedangkan harga jual di pasar-pasar tradisional mencapai Rp 110.000 per kilogram dan harga jual daging sapi di pedagang sayur keliling mencapai Rp 120.000 per kilogram.
Stok Daging Impor DKI Habis, Harga Sudah Capai Rp120 Ribu/Kg
7:57 PM
daging sapi, harga, harga daging sapi, harga daging tinggi, impor, impor daging sapi, stok daging
1 comment
Ketua Komite Daging Sapi (KDS) Jaya Sarman Simanjorang menyatakan pasokan daging sapi impor di Jakarta sudah tidak lagi tersedia. "Stok daging sapi impor di Jakarta sudah habis, sementara untuk stok daging sapi lokal juga sudah sangat menipis," kata Sarman di Balai Kota, Jakarta Pusat,
Menurut Sarman, saat ini masyarakat Jakarta hanya dapat mengandalkan daging sapi lokal dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Dharmajaya. Namun, lanjut Sarman, PD Dharmajaya juga sudah mulai mengeluh karena jumlah sapi yang dipotong ikut menurun di dua lokasi RPH, yaitu Cakung dan Pulogadung menurun.
"Normalnya, kebutuhan sapi di Jakarta adalah 1.500 ekor per hari. Biasanya, kami bisa memotong 100 ekor sapi di satu RPH, namun kini hanya bisa memotong 50 ekor sapi di dua RPH," ujar Sarman.
Dengan kondisi seperti itu, Sarman memastikan harga daging sapi pada Natal dan Tahun Baru akan kembali melonjak tinggi.
"Oleh karena itu, kami berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dapat membantu dengan cara mengirimkan surat permintaan kuota khusus daging sapi impor kepada Presiden dan Kementerian Pertanian sebelum akhir 2012," kata Sarman.
Sementara itu, di tempat yang sama, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan pihaknya akan mengirimkan surat khusus tersebut kepada pihak terkait.
"Berdasarkan instruksi pak Gubernur, kami akan mengirimkan surat
permintaan penambahan kuota daging sapi impor khusus untuk DKI Jakarta.
Daripada nanti malah kekurangan (pasokan daging sapi)," tutur Basuki.
Sebagai informasi, harga daging sapi di Jakarta saat ini sudah mencapai
Rp120.000 per kilogram. Pada tingkat distributor, harga daging sapi
mencapai Rp95.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Sedangkan harga jual di
pasar-pasar tradisional mencapai Rp110.000 per kilogram dan harga jual
daging sapi di pedagang sayur keliling mencapai Rp120.000 per kilogram.
Friday, November 23, 2012
HARGA DAGING SAPI DI BEBERAPA PROVINSI SENTRA PRODUKSI SAPI TAHUN 2009 S.D 2012
9:15 AM
aceh, daging sapi, harga, harga daging di sentra produksi, harga daging sapi, HBKN, idul adha, lebaran, produksi sapi, ramadhan, sentra, sentra produksi
8 comments
Kenaikan harga daging sapi terjadi signifikan pada waktu/periode Hari Besar Keagamaan nasional (HBKN). Setidaknya selama empat tahun terakhir, harga daging sapi tertinggi terjadi disaat HBKN, yaitu menjelang puasa hingga Idul Adha. Hal ini dikarenakan permintaan yang tinggi dari efek psikologis konsumen yang cenderung membeli daging lebih banyak pada periode tersebut serta adanya ekspektasi dan perilaku pedagang yang cenderung meningkatkan harga secara tidak wajar. Pada tahun 2009, harga daging sapi tertinggi terjadi pada saat menjelang lebaran hingga lebaran dan tahun 2010, harga daging sapi tertinggi terjadi pada saat menjelang Idul Adha. Tahun 2011, harga daging sapi tertinggi terjadi pada saat Bulan Puasa. Sementara itu, harga daging sapi untuk tahun 2012 terus merangkak naik dari awal tahun hingga lebaran dan tetap berada pada posisi tinggi setelah lebaran sehingga diperkirakan menjelang Idul Adha harga daging sapi naik mencapai Rp 110.000/kg-Rp 120.000/kg.
Pada periode HBKN tahun 2012, rata-rata harga daging sapi di Provinsi Aceh berkisar Rp.95.000/kg-Rp 120.000/kg. Tingginya harga daging sapi di Provinsi Aceh disebabkan oleh adanya tradisi meugang yang sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Aceh untuk membeli daging bagi keluarganya menyambut Ramadhan. Daging sapi disajikan sebagai lauk utama, sehari sebelum Ramadhan tiba atau Hari Raya. Tak peduli kaya atau miskin, setiap kepala keluarga harus berusaha membeli minimal satu atau dua kilo daging untuk keluarganya. Bagi keluarga mampu, bahkan akan membeli sampai lima kilo untuk dihabiskan selama bulan Ramadhan sebagai menu sahur.
"Keterangan : Jika memerlukan, Data Lengkap per bulan dapat direquest.
Pada periode HBKN tahun 2012, rata-rata harga daging sapi di Provinsi Aceh berkisar Rp.95.000/kg-Rp 120.000/kg. Tingginya harga daging sapi di Provinsi Aceh disebabkan oleh adanya tradisi meugang yang sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Aceh untuk membeli daging bagi keluarganya menyambut Ramadhan. Daging sapi disajikan sebagai lauk utama, sehari sebelum Ramadhan tiba atau Hari Raya. Tak peduli kaya atau miskin, setiap kepala keluarga harus berusaha membeli minimal satu atau dua kilo daging untuk keluarganya. Bagi keluarga mampu, bahkan akan membeli sampai lima kilo untuk dihabiskan selama bulan Ramadhan sebagai menu sahur.
"Keterangan : Jika memerlukan, Data Lengkap per bulan dapat direquest.
Wednesday, November 21, 2012
ANALISIS KORELASI DAGING SAPI
9:00 PM
analisis korelasi, correlation analysis, daging, daging sapi, harga, harga daging sapi, partial, sapi
1 comment
1. Analisis Korelasi Ganda (R)
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel independen (X1, X2,…Xn) terhadap variabel dependen (Y) secara serentak. Koefisien ini menunjukkan seberapa besar hubungan yang terjadi antara variabel independen (X1, X2,……Xn) secara serentak terhadap variabel dependen (Y). nilai R berkisar antara 0 sampai 1, nilai semakin mendekati 1 berarti hubungan yang terjadi semakin kuat, sebaliknya nilai semakin mendekati 0 maka hubungan yang terjadi semakin lemah.
Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut:
0,00 - 0,199 = sangat rendah
0,20 - 0,399 = rendah
0,40 - 0,599 = sedang
0,60 - 0,799 = kuat
0,80 - 1,000 = sangat kuat
Ingin diketahui apakah ada korelasi antara harga daging sapi dalam negeri terhadap produksi, kuota impor, kebutuhan, harga daging sapi internasional, maka dilakukan uji korelasi diantara kelima variable tersebut. Dengan menggunakan bantuan SPSS 20 diperoleh koefesien korelasi sebagai berikut :

Berdasarkan tabel diatas diperoleh R sebesar 0,98. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang kuat antara produksi, impor, kebutuhan dan harga daging sapi internasional dengan harga daging sapi dalam negeri.
2. Analisis Korelasi Parsial
Analisis korelasi parsial (Partial Correlation) digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dimana variabel lainnya yang dianggap tetap (sebagai variabel kontrol). Nilai korelasi (r) berkisar antara 1 sampai -1, nilai semakin mendekati 1 atau -1 berarti hubungan antara dua variabel semakin kuat, sebaliknya nilai mendekati 0 berarti hubungan antara dua variabel semakin lemah. Nilai positif menunjukkan hubungan searah (X naik maka Y naik) dan nilai negatif menunjukkan hubungan terbalik (X naik maka Y turun). Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio.
Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut:
0,00 - 0,199 = sangat rendah
0,20 - 0,399 = rendah
0,40 - 0,599 = sedang
0,60 - 0,799 = kuat
0,80 - 1,000 = sangat kuat
Dari hasil analisis, terlihat pada output correlation dan disajikan sebagai berikut:

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa terdapat korelasi yang kuat antara variabel impor dengan harga daging sapi dalam negeri (R=0,83) dan antara harga daging sapi internasional dengan harga daging sapi dalam negeri (R=0,82), sedangkan produksi memiliki korelasi yang sedang dengan harga daging sapi dalam negeri (R=0,59). Variabel kebutuhan memiliki korelasi yang lemah/rendah dengan harga daging sapi dalam negeri (R=0,39), sehingga dapat dikatakan bahwa kenaikan impor dan kenaikan harga daging sapi internasional berhubungan erat dengan kenaikan harga daging sapi dalam negeri, sedangkan kenaikan produksi dan kebutuhan tidak berhubungan secara signifikan dengan kenaikan harga daging sapi dalam negeri.
- Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Parsial (Uji t)
Uji signifikansi koefisien korelasi parsial digunakan untuk menguji apakah hubungan yang terjadi itu berlaku untuk populasi (dapat digeneralisasi).
Hipotesis Uji :
H01 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara produksi dengan harga daging sapi dalam negeri.
H11 : Ada hubungan yang signifikan antara produksi dengan harga daging sapi dalam negeri.
H02 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara kebutuhan dengan harga daging sapi dalam negeri.
H12 : Ada hubungan yang signifikan antara kebutuhan dengan harga daging sapi dalam negeri.
H03 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara impor dengan harga daging sapi dalam negeri.
H13 : Ada hubungan yang signifikan antara impor dengan harga daging sapi dalam negeri.
H04 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara harga daging internasional dengan harga daging sapi dalam negeri.
H14 : Ada hubungan yang signifikan antara harga daging internasional dengan harga daging sapi dalam negeri.
Tingkat signifikansi menggunakan α = 5%
Kriteria Uji :
Tolak Ho Jika : -t hitung < -t tabel atau Pvalue < α, terima dalam hal lainnya
Dari tabel hasil pengujian dapat dilihat bahwa:
- Pvalue produksi= 0,33> α=5%, sehingga Ho diterima atau berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara produksi dengan harga daging sapi dalam negeri.
- Pvalue kebutuhan= 0, 59> α=5%, sehingga Ho diterima atau berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kebutuhan dengan harga daging sapi dalam negeri.
- Pvalue impor= 0,83 < α=5%, sehingga Ho ditolak atau berarti bahwa ada hubungan yang signifikan antara impor dengan harga daging sapi dalam negeri.
- Pvalue harga daging sapi internasional= 0,82< α=5%, sehingga Ho ditolak atau berarti bahwa ada hubungan yang signifikan antara harga daging internasional dengan harga daging sapi dalam negeri
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel independen (X1, X2,…Xn) terhadap variabel dependen (Y) secara serentak. Koefisien ini menunjukkan seberapa besar hubungan yang terjadi antara variabel independen (X1, X2,……Xn) secara serentak terhadap variabel dependen (Y). nilai R berkisar antara 0 sampai 1, nilai semakin mendekati 1 berarti hubungan yang terjadi semakin kuat, sebaliknya nilai semakin mendekati 0 maka hubungan yang terjadi semakin lemah.
Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut:
0,00 - 0,199 = sangat rendah
0,20 - 0,399 = rendah
0,40 - 0,599 = sedang
0,60 - 0,799 = kuat
0,80 - 1,000 = sangat kuat
Ingin diketahui apakah ada korelasi antara harga daging sapi dalam negeri terhadap produksi, kuota impor, kebutuhan, harga daging sapi internasional, maka dilakukan uji korelasi diantara kelima variable tersebut. Dengan menggunakan bantuan SPSS 20 diperoleh koefesien korelasi sebagai berikut :
Berdasarkan tabel diatas diperoleh R sebesar 0,98. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang kuat antara produksi, impor, kebutuhan dan harga daging sapi internasional dengan harga daging sapi dalam negeri.
2. Analisis Korelasi Parsial
Analisis korelasi parsial (Partial Correlation) digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dimana variabel lainnya yang dianggap tetap (sebagai variabel kontrol). Nilai korelasi (r) berkisar antara 1 sampai -1, nilai semakin mendekati 1 atau -1 berarti hubungan antara dua variabel semakin kuat, sebaliknya nilai mendekati 0 berarti hubungan antara dua variabel semakin lemah. Nilai positif menunjukkan hubungan searah (X naik maka Y naik) dan nilai negatif menunjukkan hubungan terbalik (X naik maka Y turun). Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio.
Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut:
0,00 - 0,199 = sangat rendah
0,20 - 0,399 = rendah
0,40 - 0,599 = sedang
0,60 - 0,799 = kuat
0,80 - 1,000 = sangat kuat
Dari hasil analisis, terlihat pada output correlation dan disajikan sebagai berikut:
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa terdapat korelasi yang kuat antara variabel impor dengan harga daging sapi dalam negeri (R=0,83) dan antara harga daging sapi internasional dengan harga daging sapi dalam negeri (R=0,82), sedangkan produksi memiliki korelasi yang sedang dengan harga daging sapi dalam negeri (R=0,59). Variabel kebutuhan memiliki korelasi yang lemah/rendah dengan harga daging sapi dalam negeri (R=0,39), sehingga dapat dikatakan bahwa kenaikan impor dan kenaikan harga daging sapi internasional berhubungan erat dengan kenaikan harga daging sapi dalam negeri, sedangkan kenaikan produksi dan kebutuhan tidak berhubungan secara signifikan dengan kenaikan harga daging sapi dalam negeri.
- Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Parsial (Uji t)
Uji signifikansi koefisien korelasi parsial digunakan untuk menguji apakah hubungan yang terjadi itu berlaku untuk populasi (dapat digeneralisasi).
Hipotesis Uji :
H01 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara produksi dengan harga daging sapi dalam negeri.
H11 : Ada hubungan yang signifikan antara produksi dengan harga daging sapi dalam negeri.
H02 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara kebutuhan dengan harga daging sapi dalam negeri.
H12 : Ada hubungan yang signifikan antara kebutuhan dengan harga daging sapi dalam negeri.
H03 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara impor dengan harga daging sapi dalam negeri.
H13 : Ada hubungan yang signifikan antara impor dengan harga daging sapi dalam negeri.
H04 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara harga daging internasional dengan harga daging sapi dalam negeri.
H14 : Ada hubungan yang signifikan antara harga daging internasional dengan harga daging sapi dalam negeri.
Tingkat signifikansi menggunakan α = 5%
Kriteria Uji :
Tolak Ho Jika : -t hitung < -t tabel atau Pvalue < α, terima dalam hal lainnya
Dari tabel hasil pengujian dapat dilihat bahwa:
- Pvalue produksi= 0,33> α=5%, sehingga Ho diterima atau berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara produksi dengan harga daging sapi dalam negeri.
- Pvalue kebutuhan= 0, 59> α=5%, sehingga Ho diterima atau berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kebutuhan dengan harga daging sapi dalam negeri.
- Pvalue impor= 0,83 < α=5%, sehingga Ho ditolak atau berarti bahwa ada hubungan yang signifikan antara impor dengan harga daging sapi dalam negeri.
- Pvalue harga daging sapi internasional= 0,82< α=5%, sehingga Ho ditolak atau berarti bahwa ada hubungan yang signifikan antara harga daging internasional dengan harga daging sapi dalam negeri
Kenaikan Harga Daging Sapi di Palangka Raya Memicu Kenaikan Harga Daging Ayam dan Telur Ayam
8:24 PM
chicken, daging, daging ayam, eggs, harga, harga daging sapi, increase in meat prices, kahayang, kalimantan selatan, kenaikan, meat price, naik, new year, palangka raya, pasar, payang sari, peternak, sapi, telur ayam
5 comments
Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan ke Pasar Payang Sari dan Kahayang, Palangkaraya, harga daging sapi saat ini (20/11) naik 10-20 persen dari semula Rp 100.000/kg menjadi Rp 120.000/kg. Harga daging di Palangkaraya semenjak sebelum puasa sudah cukup tinggi, dan hingga usai Lebaran dan Idul Adha, harga daging sapi bertahan pada posisi harga tinggi. Ditambah lagi saat ini harga kembali naik. Menurut pedagang di pasar, naiknya harga daging sapi di Palangkaraya disebabkan berkurangnya pasokan sapi dari daerah pemasok. Dalam hal ini Banjar, Kalimantan Selatan. Selama ini kebutuhan daging sapi wilayah ini dipenuhi dari wilayah Kalimantan Selatan.
Kelangkaan sapi ini, cukup membuat resah penjual daging di pasar. Semula mereka bisa memotong 2 sampai 3 ekor sapi sehari untuk dijual, namun kini hanya 1 ekor sapi. Hal ini dikarenakan berkurangnya pasokan. Peternak sapi enggan melepas sapi mereka karena takut tidak bisa membeli sapi bakalan baru untuk digemukkan. Perusahaan penggemukan sapi enggan melepas sapi karena belum ada kepastian kuota impor sapi bakalan.
Selain dari itu, moment Natal dan tahun baru juga diperkirakan menyebabkan naiknya harga. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, pada saat menjelang Natal dan Tahun baru, permintaan akan daging meningkat dan sedikit membuat harga daging sapi naik.
Kenaikan harga daging sapi memicu pada naiknya pangan hewani lainnya seperti daging ayam dan telur ayam. Harga daging ayam di Pasar Payang Sari dan Kahayang, Palangkaraya, naik menjadi Rp 26 ribu per kilogram dari semula berkisar Rp 23 ribu hingga 25.000/kg. Sedangkan harga telur naik menjadi Rp 1.300 per butir atau naik Rp 100 per butir, Kenaikan harga daging ayam dan telur ayam ini tidak membuat penjual sepi pembeli.Mereka masih cukup ramai didatangi pembeli. Rata-rata sekitar 150 ekor ayam boiler per hari dipotong oleh pedagang dan habis terjual hari itu juga.
Kelangkaan sapi ini, cukup membuat resah penjual daging di pasar. Semula mereka bisa memotong 2 sampai 3 ekor sapi sehari untuk dijual, namun kini hanya 1 ekor sapi. Hal ini dikarenakan berkurangnya pasokan. Peternak sapi enggan melepas sapi mereka karena takut tidak bisa membeli sapi bakalan baru untuk digemukkan. Perusahaan penggemukan sapi enggan melepas sapi karena belum ada kepastian kuota impor sapi bakalan.
Selain dari itu, moment Natal dan tahun baru juga diperkirakan menyebabkan naiknya harga. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, pada saat menjelang Natal dan Tahun baru, permintaan akan daging meningkat dan sedikit membuat harga daging sapi naik.
Kenaikan harga daging sapi memicu pada naiknya pangan hewani lainnya seperti daging ayam dan telur ayam. Harga daging ayam di Pasar Payang Sari dan Kahayang, Palangkaraya, naik menjadi Rp 26 ribu per kilogram dari semula berkisar Rp 23 ribu hingga 25.000/kg. Sedangkan harga telur naik menjadi Rp 1.300 per butir atau naik Rp 100 per butir, Kenaikan harga daging ayam dan telur ayam ini tidak membuat penjual sepi pembeli.Mereka masih cukup ramai didatangi pembeli. Rata-rata sekitar 150 ekor ayam boiler per hari dipotong oleh pedagang dan habis terjual hari itu juga.
Pemerintah Gagal Ansipasi Pasokan Daging Sapi
8:11 PM
antisipasi, daging sapi, harga, harga daging sapi, pasokan, pasokan daging sapi, pasokan sapi, pemerintah
1 comment
Lonjakan oermintaan sapi atau daging sapi menjadi pemicu utama kelangkaan dan mahalnya harga daging sapi di pasaran. Pemerintah dinilai gagal mengantisipasi hal tersebut. Meski begitu, berbagai masalah terkait kelancaran pasokan mulai teratasi
Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi terkait kelangkaan dan mahalnya harga daging sapi Kemenko perekonomian, Jakarta, Selasa (20/11). Rapat dipimpin Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Diah Maulida.
Rapat antara lain dihadirai oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saeh, dan wakil asosiasi importir, peternak dan penggemukan sapi, tanpa dihadiri wakil dari Kementerian Perhubungan.
Permintaan sapi atau daging sapi belakangan ini meningkat pesat. Ini salah satunya sebagai dampak adanya program pemerintah untuk penggemukan 100.000 ekor sapi oelh perusahaan BUMN. Belum lagi kondisi psikologis menjelang Natal dan Tahun Baru.
Disisi lain, pasokan mengalami kendala. Sapi dari pusat produksi seperti di NTB dan NTT tidak bisa masuk ke Jakarta karena adanya larangan transit sapi hidup oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan alasan kesehatan sapi tersebut.
Para peternak sapi di Jawa timur yang selama ini menggemukkan sapi rakyat tidak mau melepas sapi mereka karena takut tidak bisa membeli sapi bakalan baru untuk digemukkan. Perusahaan penggemukan sapi enggan melepas sapi karena belum ada kepastian kuota impor sapi bakalan.
Meskipun demikian pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk melancarkan arus barang. Pelabuah di Jawa Timur, misalnya, sudah bisa menjadi tempat transit sapi ke Jakarta. Harga sapi bakalan di Jawa Timur mulai turun. Pemprov Jatim melarag sapi dengan berat 250-400 kg keluar dari wilayah Jawa Timur.
Rapat antara lain dihadirai oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saeh, dan wakil asosiasi importir, peternak dan penggemukan sapi, tanpa dihadiri wakil dari Kementerian Perhubungan.
Permintaan sapi atau daging sapi belakangan ini meningkat pesat. Ini salah satunya sebagai dampak adanya program pemerintah untuk penggemukan 100.000 ekor sapi oelh perusahaan BUMN. Belum lagi kondisi psikologis menjelang Natal dan Tahun Baru.
Disisi lain, pasokan mengalami kendala. Sapi dari pusat produksi seperti di NTB dan NTT tidak bisa masuk ke Jakarta karena adanya larangan transit sapi hidup oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan alasan kesehatan sapi tersebut.
Para peternak sapi di Jawa timur yang selama ini menggemukkan sapi rakyat tidak mau melepas sapi mereka karena takut tidak bisa membeli sapi bakalan baru untuk digemukkan. Perusahaan penggemukan sapi enggan melepas sapi karena belum ada kepastian kuota impor sapi bakalan.
Meskipun demikian pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk melancarkan arus barang. Pelabuah di Jawa Timur, misalnya, sudah bisa menjadi tempat transit sapi ke Jakarta. Harga sapi bakalan di Jawa Timur mulai turun. Pemprov Jatim melarag sapi dengan berat 250-400 kg keluar dari wilayah Jawa Timur.
Saturday, November 17, 2012
HARGA DAGING SAPI BERTAHAN TINGGI DI KALIMANTAN TENGAH
3:16 AM
daging sapi, harga, harga daging bertahan tinggi, harga daging tinggi, kalimantan, tinggi
1 comment
BANDARLAMPUNG
Harga daging sapi di Bandar Lampung bertahan tinggi pasca-Lebaran. Hal ini dipengaruhi oleh pengetatan impor sapi. Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional di Bandar Lampung, Selasa (11/9/2012) harga daging sapi saat ini mencapai Rp 75.000 - 80.000 per kg. Pada periode yang sama tahun lalu, harga daging sapi masih berada di kisaran Rp 60.000 - Rp 65.000 per kg.
"Harga daging dari PT (perusahaan penggemukan sapi) dan dari penjual (sapi lokal) sudah tinggi, sejak sebelum Lebaran," ujar Effendi (48), pedagang daging di Pasar Smep, Bandar Lampung. Saat Lebaran, harga daging sapi sempat meroket hingga mencapai Rp 100.000 - Rp 110.000 per kg.
Tingginya harga daging ini dikeluhkan pembeli, khususnya pedagang bakso. Apalagi, Lampung selama ini dikenal sebagai lumbung daging sapi. "Setelah Lebaran, harga turun sedikit. Ya, akibatnya keuntungan (penjualan bakso) semakin menipis," tutur Eni Muslihah (30), pengusaha kecil bakso.Tingginya harga daging sapi ini ditengarai terbatasnya stok daging menyusul pengetatan kebijakan impor sapi bakalan dan daging selama setahun terakhir.
SUMATERA SELATAN,
"Harga daging dari PT (perusahaan penggemukan sapi) dan dari penjual (sapi lokal) sudah tinggi, sejak sebelum Lebaran," ujar Effendi (48), pedagang daging di Pasar Smep, Bandar Lampung. Saat Lebaran, harga daging sapi sempat meroket hingga mencapai Rp 100.000 - Rp 110.000 per kg.
Tingginya harga daging ini dikeluhkan pembeli, khususnya pedagang bakso. Apalagi, Lampung selama ini dikenal sebagai lumbung daging sapi. "Setelah Lebaran, harga turun sedikit. Ya, akibatnya keuntungan (penjualan bakso) semakin menipis," tutur Eni Muslihah (30), pengusaha kecil bakso.Tingginya harga daging sapi ini ditengarai terbatasnya stok daging menyusul pengetatan kebijakan impor sapi bakalan dan daging selama setahun terakhir.
SUMATERA SELATAN,
Meski
permintaan daging sudah mulai normal pasca Idul Fitri 1433 H, namun harga jual
daging di pasar masih relatif tinggi yakni Rp 90 ribu per kilogram (Kg). Kepala
DP2K Kota Palembang, Sudirman Tegoeh, mengatakan, saat ini permintaan daging
sudah jauh menurun dibanding beberapa hari menjelang lebaran.Jika sebelumnya
Rumah Pemotongan Hewan (RPH) harus memotong minimal 279 sapi per hari, sekarang
cukup 50 sapi saja.Menurutnya, sebelum lebaran, permintaan daging sapi lebih
banyak dari kalangan rumah tangga, dan saat ini hanya untuk keperluan usaha
seperti rumah makan atau pedagang bakso. “Jika dipersentasekan penurunan bisa
mencapai 40 persen. Tapi tetap tidak menutup kemungkinan beberapa hari ke
depan, terutama akhir pekan mendatang permintaan sedikit meningkat. Sebab,
biasanya setelah lebaran cukup banyak yang hajatan dan memerlukan daging,” kata
Sudirman,
Untuk
harga, kata Sudirman, memang mencapai Rp 90ribu/Kg saat ini masih tergolong
tinggi. Sebab harga normal daging sebelumnya tidak lebih dari Rp 75 ribu.
Ketersediaan
daging saat ini, Sudirman mengatakan tidak ada masalah untuk wilayah Kota
Palembang. Kebutuhan daging saat lebaran tahun ini memang jauh meningkat, namun
tetap bisa dipenuhi. Secara umum pasokan daging sapi di Palembang aman. Sementara
itu, sejumlah penjual daging di Pasar Tumanggung (17 Ilir) dan Pasar Cinde
mengaku harga daging memang belum bisa turun.
ANALISIS HARGA DAGING SAPI (PART 2)
1:06 AM
Amerika, analisis harga, analisis harga daging sapi, daging sapi, harga, harga daging sapi, luar negeri, meat price, nasional
4 comments
1. Harga Daging Sapi Internasional
(Amerika Serikat)
Harga daging sapi di luar negeri cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data United States Departement of Agriculture Economic Research Service (USDA-ERS) selama periode tahun 2000 sampai dengan 2012, harga daging sapi internasional mengalami kenaikan sebesar 51,5 persen dengan rata-rata kenaikan per tahun sebesar 4,3 persen. Jika diamati pola perkembangannya, harga daging sapi internasional mengalami lonjakan yang relatif tinggi terjadi pada tahun 2003, kemudian tahun 2008 dan tahun 2011.
Selama tahun 2003, harga daging sapi mengalami kenaikan sebesar 23,6 persen, dengan harga pada awal tahun 2003 sebesar US$6,79/kg dan akhir tahun mencapai US$8,49/kg. Kenaikan harga daging sapi internasional tahun 2003 seiring dengan ditemukan pertama kalinya kasus penyakit sapi gila (Mad Cow) di Amerika Serikat.
Subscribe to:
Posts (Atom)










